Sunday, October 7, 2012

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)


1.      Definisi
Bencana adalah sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/ atau faktor non- alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Ps 1). Bencana menimbulkan trauma psikologis bagi semua orang yang mengalaminya.
Post traumatic stress disorder (PTSD) merupakan gangguan kecemasan yang dapat terjadi setelah mengalami atau menyaksikan suatu peristiwa traumatis. PTSD dapat terjadi secara akut (gejala berlangsung <3 bulan), kronis (gejala berlangsung> 3 bulan), atau onset tertunda (selang 6 bulan dari acara untuk onset gejala).
Banyak korban menunjukkan gejala terjadinya PTSD segera sesudah terjadinya bencana, sementara sebagian lainnya baru berkembang gejala PTSD beberapa bulan ataupun beberapa tahun kemudian. Pada sebagian kecil orang, PTSD dapat menjadi suatu gangguan kejiwaan yang kronis dan menetap beberapa puluh tahun bahkan seumur hidup.
2.      Patofisiologi
Amigdala adalah struktur kunci dalam otak yang terlibat dalam PTSD. Penelitian telah menunjukkan bahwa paparan terhadap rangsangan traumatik dapat menyebabkan pengkondisian rasa takut dengan resultan aktivasi dari amigdala dan struktur terkait seperti hipotalamus, locus cerelous,  grey periaqueductal, dan inti parabrachial. Aktivasi neurotransmiter otonom dan aktivitas endokrin menghasilkan banyak gejala PTSD. Hippocampus juga mungkin memiliki efek modulasi di amigdala. Korteks orbitoprefrontal sebenarnya dapat menambah efek inhibisi pada aktivasi PTSD. Namun, pada orang yang mengembangkan PTSD, korteks orbitoprefrontal muncul kurang mampu menghambat aktivasi ini, mungkin karena stres akibat atrofi inti tertentu di wilayah ini.
3.      Gejala utama PTSD
Gejala utama PTSD terbagi menjadi tiga, yaitu:
a.       Re-experience phenomena
1)   Munculnya kembali perasaan tertekan atau terancam baik dalam imajinasi, pikiran ataupun persepsi.
2)   Munculnya mimpi-mimpi yang menakutkan.
3)   Adanya reaksi psikologis yang merupakan simbol/ terkait dengan peristiwa trauma.
4)   Adanya reaksi fisik yang merupakan simbol/ terkait dengan peristiwa trauma.
b.      Avoidance or numbing reaction
1)   Menghindari pikiran, perasaan atau pembicaraan yang berkaitan dengan peristiwa traumatic.
2)   Menghindari kegiatan, tempat atau orang-orang yang terkait dengan trauma.
3)   Ketidakmampuan untuk mengingat aspek penting dari trauma.
4)   Berkurangnya minat atau partisipasi dalam kegiatan yang terkait.
5)   Kekakuan perasaan atau ketidakmampuan mengekspresikan perasaan seperti kasih sayang.
6)   Kehilangan harapan seperti tidak memiliki minat terhadap karir, perkawinan, keluarga atau kehidupan jangka panjang.
c.       Symptoms of increased arousal: peningkatan gejala distress
Adapun criterianya adalah :
1)   Seseorang biasanya mengalami atau dihadapkan pada ancaman yang serius termasuk bencana, kematian, kecelakan luar biasa, ancaman fisik terhadap diri maupun orang lain.
2)   Individu mengalami kondisi ketakutan, tidak berdaya dan selalui dihantui oleh peristiwa tersebut. Pada kasus anak sering terjadi perilaku yang disorganized atau agitasi. Jika kedua kriteria tersebut muncul maka dapat dilakukan pengelompokan gejala kedalam tiga gejala utama tadi.
4.      Penanganan
a.         Farmakologi
1)  Terapi anti depresan: Obat yang biasa digunakan adalah benzodiazepin, litium, camcolit dan zat pemblok beta– seperti propranolol, klonidin, dan karbamazepin. Dosis contoh, estazolam 0,5-1 mg per os, Oksanazepam10-30 mg per os, Diazepam (valium) 5-10 mg per os, Klonaz-epam 0,25-0,5 mg per os, atau Lorazepam 1-2 mg per os atau IM.
2) Antiansietas: alprazolam digunakan untuk mengatasi depresi dan panik pada pasien PTSD, buspirone dapat meningkatkan serotonin.
b.         Non- farmakologi
Psikoterapi yang dapat digunakan dan efektif untuk penanganan PTSD, antara lain:
•    Anxiety management: terapis akan mengajarkan beberapa ketrampilan untuk membantu mengatasi gejala PTSD dengan lebih baik melalui:
1)       Relaxation training, yaitu belajar mengontrol ketakutan dan kecemasan secara sistematis dan merelaksasikan nyaman, bahkan reaksi fisik yang tidak baik seperti jantung berdebar dan sakit kepala.
2)       Breathing retraining, belajar bernafas dengan perut secara perlahan, santai. Menghindari bernafas tergesa-gesa yang merasakan tidak nyaman.
3)       Positive thinking dan self-talk, yaitu belajar untuk menghilangkan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran positif ketika menghadapi hal– hal yang membuat stress (stresor).
4)       Assertiveness training, yaitu belajar bagaimana mengekspresikan harapan, opini dan emosi tanpa menyalahkan atau menyakiti orang lain.
5)       Thought stopping, yaitu belajar bagaimana mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-hal yang membuat kita stress.
6)       Cognitive therapy, terapis membantu untuk merubah kepercayaan yang tidak rasional yang mengganggu emosi dan mengganggu kegiatan. Tujuan kognitif terapi adalah mengidentifikasi pikiran- pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang.
7)       Exposure therapy: para terapis membantu menghadapi situasi yang khusus, orang lain, obyek, memori atau emosi yang mengingatkan pada trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik dalam kehidupannya. Terapi dapat berjalan dengan cara: exposure in the imagination, yaitu bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail sampai tidak mengalami hambatan menceritakan; atau exposure in reality, yaitu membantu menghadapi situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena menyebabkan ketakutan yang sangat kuat.
8)       Terapi bermain (play therapy) mungkin berguna pada penyembuhan anak dengan PTSD. Terapi bermain dipakai untuk menerapi anak dengan PTSD. Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai secara langsung. Hal ini dapat membantu anak lebih merasa nyaman.

0 comments:

Post a Comment