1.
Definisi
Bencana adalah
sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/
atau faktor non- alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Ps 1). Bencana menimbulkan trauma psikologis bagi semua orang yang mengalaminya.
Post traumatic stress disorder (PTSD) merupakan
gangguan kecemasan yang dapat terjadi setelah mengalami atau menyaksikan suatu
peristiwa traumatis. PTSD dapat terjadi secara akut (gejala berlangsung <3
bulan), kronis (gejala berlangsung> 3 bulan), atau onset tertunda (selang 6
bulan dari acara untuk onset gejala).
Banyak korban menunjukkan
gejala terjadinya PTSD segera sesudah terjadinya bencana, sementara sebagian
lainnya baru berkembang gejala PTSD beberapa bulan ataupun beberapa tahun
kemudian. Pada sebagian kecil orang, PTSD dapat menjadi suatu gangguan kejiwaan
yang kronis dan menetap beberapa puluh tahun bahkan seumur hidup.
2.
Patofisiologi
Amigdala adalah
struktur kunci dalam otak yang terlibat dalam PTSD. Penelitian telah
menunjukkan bahwa paparan terhadap rangsangan traumatik dapat menyebabkan
pengkondisian rasa takut dengan resultan aktivasi dari amigdala dan struktur
terkait seperti hipotalamus, locus cerelous,
grey periaqueductal, dan inti parabrachial. Aktivasi neurotransmiter
otonom dan aktivitas endokrin menghasilkan banyak gejala PTSD. Hippocampus juga
mungkin memiliki efek modulasi di amigdala. Korteks orbitoprefrontal sebenarnya
dapat menambah efek inhibisi pada aktivasi PTSD. Namun, pada orang yang
mengembangkan PTSD, korteks orbitoprefrontal muncul kurang mampu menghambat
aktivasi ini, mungkin karena stres akibat atrofi inti tertentu di wilayah ini.
3.
Gejala utama PTSD
Gejala utama PTSD terbagi menjadi tiga, yaitu:
a.
Re-experience phenomena
1) Munculnya kembali perasaan tertekan atau terancam baik dalam
imajinasi, pikiran ataupun persepsi.
2) Munculnya mimpi-mimpi yang menakutkan.
3) Adanya reaksi psikologis yang merupakan simbol/ terkait dengan
peristiwa trauma.
4) Adanya reaksi fisik yang merupakan simbol/ terkait dengan
peristiwa trauma.
b.
Avoidance or numbing reaction
1) Menghindari pikiran, perasaan atau pembicaraan yang berkaitan
dengan peristiwa traumatic.
2) Menghindari kegiatan, tempat atau orang-orang yang terkait dengan
trauma.
3) Ketidakmampuan untuk mengingat aspek penting dari trauma.
4) Berkurangnya minat atau partisipasi dalam kegiatan yang terkait.
5) Kekakuan perasaan atau ketidakmampuan mengekspresikan perasaan
seperti kasih sayang.
6) Kehilangan harapan seperti tidak memiliki minat terhadap karir,
perkawinan, keluarga atau kehidupan jangka panjang.
c.
Symptoms of increased arousal: peningkatan
gejala distress
Adapun criterianya adalah :
1) Seseorang biasanya mengalami atau dihadapkan pada ancaman yang
serius termasuk bencana, kematian, kecelakan luar biasa, ancaman fisik terhadap
diri maupun orang lain.
2) Individu mengalami kondisi ketakutan, tidak berdaya dan selalui
dihantui oleh peristiwa tersebut. Pada kasus anak sering terjadi perilaku yang disorganized atau agitasi. Jika kedua
kriteria tersebut muncul maka dapat dilakukan pengelompokan gejala kedalam tiga
gejala utama tadi.
4.
Penanganan
a.
Farmakologi
1) Terapi anti depresan: Obat yang biasa
digunakan adalah benzodiazepin, litium, camcolit dan zat pemblok beta– seperti
propranolol, klonidin, dan karbamazepin. Dosis contoh, estazolam 0,5-1 mg per
os, Oksanazepam10-30 mg per os, Diazepam (valium) 5-10 mg per os, Klonaz-epam
0,25-0,5 mg per os, atau Lorazepam 1-2 mg per os atau IM.
2) Antiansietas:
alprazolam digunakan untuk mengatasi depresi dan panik pada pasien PTSD,
buspirone dapat meningkatkan serotonin.
b.
Non- farmakologi
Psikoterapi yang dapat digunakan
dan efektif untuk penanganan PTSD, antara lain:
• Anxiety
management: terapis akan mengajarkan beberapa ketrampilan untuk membantu
mengatasi gejala PTSD dengan lebih baik melalui:
1)
Relaxation training, yaitu belajar
mengontrol ketakutan dan kecemasan secara sistematis dan merelaksasikan nyaman,
bahkan reaksi fisik yang tidak baik seperti jantung berdebar dan sakit kepala.
2)
Breathing retraining, belajar
bernafas dengan perut secara perlahan, santai. Menghindari bernafas
tergesa-gesa yang merasakan tidak nyaman.
3)
Positive thinking dan self-talk, yaitu belajar untuk
menghilangkan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran positif ketika
menghadapi hal– hal yang membuat stress (stresor).
4)
Assertiveness training, yaitu belajar
bagaimana mengekspresikan harapan, opini dan emosi tanpa menyalahkan atau
menyakiti orang lain.
5)
Thought stopping, yaitu belajar
bagaimana mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-hal yang
membuat kita stress.
6)
Cognitive therapy, terapis
membantu untuk merubah kepercayaan yang tidak rasional yang mengganggu emosi
dan mengganggu kegiatan. Tujuan kognitif terapi adalah mengidentifikasi
pikiran- pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa pikiran tersebut
tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran
yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang.
7)
Exposure therapy: para terapis
membantu menghadapi situasi yang khusus, orang lain, obyek, memori atau emosi
yang mengingatkan pada trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik
dalam kehidupannya. Terapi dapat berjalan dengan cara: exposure in the
imagination, yaitu bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail
sampai tidak mengalami hambatan menceritakan; atau exposure in reality, yaitu
membantu menghadapi situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena
menyebabkan ketakutan yang sangat kuat.
8)
Terapi bermain (play therapy) mungkin berguna pada
penyembuhan anak dengan PTSD. Terapi bermain dipakai untuk menerapi anak dengan
PTSD. Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai
secara langsung. Hal ini dapat membantu anak lebih merasa nyaman.


0 comments:
Post a Comment