Smile

How much patients are helped by nurses' smile and support

Luv nurse

Aku Bangga menjadi Calon Perawat

Sunday, October 7, 2012

Semua Karena Nursing Informatics

Dahulu..
Netbook cuma buat mengoperasikan office,
cuma buat nge- game,
cuma buat nonton film,
cuma buat muter mp3.

Dahulu..
kalo ngenet cuma buat searching jurnal,
cuma buat buka email,
cuma buat ngeksis di jejaring sosial,
cuma buat download lagu.

Dahulu..
kalo mau beli laptop, 
cuma milih merknya aja,
bingung kalo ngliat brosur yang dibagikan.

Dahulu..
sama sekali nggak tertarik sama yang namanya smartphone,
karna berpikir:
"ah, HP mahal cuma buat ngeksis di jejaring sosial"
"ah, cuma buat nge- game"

Tapi, sekarang......
Punya segudang aplikasi buat belajar, sampe bingung mau buka yang mana.
Punya blog yang pengen di update terus karna pengen berbagi ilmu.
Udah bisa milih leaptop dengan ngeliat brosurnya.
dan pengen bangeeeet punya smartphone..


Mimisan


Mimisan adalah keluarnya darah dari lubang hidung yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di lubang hidung bagian depan.

Penyebab:
Hipertensi (tekanan darah tinggi) 
 Penyakit darah
Influenza (Pilek)
 Bersin
Membuang ingus
Kelainan hidung
Mencukil- cukil hidung
Tekanan udara rendah (di gunung)

Penanganan:
Penderita di dudukkan pada posisi merunduk
(agar darah tidak masuk ke paru- paru)
 Lakukan pemijatan pada pangkal hidung selama 10 menit
Penderita diminta untuk tidak berbicara, menelan, meludah, bersin, dan batuk à karena akan mengganggu pembekuan darah
Bersihkan darah dengan lap bersih atau tissue
Setelah perdarahan berhenti, bersihkan daerah hidung dan sekitar mulut dengan air hangat
Jika perdarahan lebih dari 30 menit, segera bawa ke rumah sakit

Sumber: modul pelatihan Perawat Cilik, 2012

Asma


1.      Definisi
Asma adalah suatu penyakit yang ditandai oleh hipersensitifitas percabangan trakheobronkial terhadap berbagai stimuli. Kondisi ini dimanifestasikan oleh penyempitan jalan nafas yang bersifat periodik reversibel yang disebabkan oleh spasme bronkus.
Asma merupakan penyakit inflamasi obstruktif yang ditandai oleh periode episodik spasme otot- otot polos dalam dinding saluran udara bronkial (spasme bronkus). Spasme bronkus ini menyempitkan jalan nafas, sehingga membuat pernafasan menjadi sulit dan menimbulkan bunyi mengi.
Asma merupakan penyait kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biokimia, endokrin, infeksi, otonomik, dan psikologi.
2.      Tipe Asma
a.       Asma alergik/ ekstrinsik merupakan suatu jenis asma yang disebabkan oleh alergen, misalnya bulu binatang, debu, tepung sari, makanan, dan lain- lain. Alergen yang paling umum adalah alergen yang perantaraan penyebarannya melalui udara (airbone) dan alergen yang muncul secara musiman (seasional). Pasien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan eksema atau rhinitis alergik. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asma. Gejala asma umumnya dimulai saat kanak- kanak.
b.      Asma idiopatik (nonallergic astma/ intrinsik) merupakan jenis asma yang tidak berhubungan secara langsung dengan alergen spesifik. Faktor- faktor seperti common cold, infeksi saluran pernafasan atas, aktivitas, emosi, dan polusi lingkungan dapat menimbulkan serangan asma. Beberapa agen farmakologi, antagonis, beta- adrenergik, dan agen sulfite (penyedap makanan) juga dapat berperan sebagai faktor pencetus. Serangan asma ini dapat menjadi lebih berat dan sering kali dengan berjalannya waktu dapat berkembang menjadi bronkhitis dan emfisema. Pada beberapa pasien, asma jenis ini dapat berkembang menjadi asma campuran. Bentuk asma ini  biasanya dimulai pada usia lebih dari 35 tahun.
c.       Asma campuran merupakan bentuk asma yang paling sering ditemukan. Dikarakteristikan dengan bentuk kedua jenis asma alergi dan non- alergi.
3.      Etiologi
Sampai saat ini, etiologi asma belum diketahui secara pasti. Namun, suatu hal yang sering terjadi pada penderita asma adalah fenomena hiperaktivitas bronkus. Bronkus penderita asma sangat peka terhadap rangsang imunologi maupun non-imunologi. Karena sifat tersebut, maka serangan asma mudah terjadi akibat rangsangan baik fisik, metabolisme, kimia, alergen, infeksi, dan sebagainya.
Faktor yang sering menimbulkan asma perlu diketahui dan sedapat mungkin dapat dihindarkan. Faktor- faktor tersebut meliputi:
a.       Alergen utama: debu rumah, spora jamur, dan tepung sari rerumputan
b.      Iritan, seperti asap, bau- bauan, dan polutan
c.       Infeksi saluran nafas terutama yang disebabkan oleh virus
d.      Perubahan cuaca yang ekstrim
e.       Aktivitas fisik yang berlebiha.
f.       Lingkungan kerja
g.      Obat- obatan
h.      Emosi
i.        Faktor lain, misal: refluks gastroesofagus.
4.      Gambaran klinis
Gejala asma terdiri atas triad: dispnea, batuk, dan mengi (bengek atau sesak nafas). Gejala sesak nafas sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (‘sine qua non’). Hal tersebut berarti jika penderita menganggap penyakitnya adalah asma namun tidak mengeluhkan sesak nafas, perawat harus yakin bahwa pasien bukan menderita asma.
Gambaran klinis pasien yang menderita asma:
a.       Gambaran objektif yang ditangkap perawat adalah kondisi pasien dalam keadaan seperti di bawah ini:
-          Sesak nafas parah dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing.
-          Dapat disertai batuk dengan sputum kental dan sulit dikeluarkan.
-          Bernafas dengan menggunakan otot- otot tambahan.
-          Sianosis, takikardi, gelisah, dan pulsus paradoksus.
-          Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apex dan hilus).
b.      Gambaran subjektif yang ditangkap perawat adalah pasien mengeluhkan sukar bernafas, sesak, dan anoreksia.
Gambaran psikososil yang diketahui perawat adalah cemas, takut, mudah tersinggung, dan kurangnya pengetahuan pasien terhadap situasi penyakitnya.

Hukum Jodoh- Mario Teguh


Yang di tangan itu bukan jodohmu, tapi hukum bagi jodohmu.
Hukumnya adalah
Jika engkau baik, engkau akan berjodoh dengan jiwa yang baik.
Jika engkau menunda kebaikan, maka engkau akan berjodoh dengan orang yang kebaikannya belum datang.
Jodoh ada ditanganmu. Engkau yang memilih, Tuhan yang menyetujui.
Maka janganlah engkau memaksa memilih yang tidak baik, dalam hal jodoh atau apa pun.
Jadilah sebab yang baik bagi jodoh dan kehidupanmu.
-Mario Teguh-

Askep Gangguan Body Image


Pengkajian:
1)      Data demografi pasien
2)      Mengkaji komponen konsep diri, yaitu:
a.       Gambaran diri
b.      Ideal diri
c.       Harga diri
d.      Penampilan peran
e.       Identitas diri
3)      Faktor predisposisi gangguan body image, seperti budaya, teman sebaya, tuntutan peran.
4)      Faktor presipitasi, misalnya trauma, baik fisik maupun psikologis.
5)      Sumber koping
6)      Mekanisme koping
7)      Keluhan yang dirasakan pasien terkait body image.
8)      Perilaku respon dari gangguan body image.
Diagnosa:
1)      Gangguan body image, yaitu kebingungan atau kekeliruan dalam gambaran mental seseorang terhadap fisiknya sendiri. Gambaran mental yang salah dan keliru terhadap fisiknya sendiri.
Batasan karakteristik:
a.       Adanya perilaku mengamati tubuh orang lain
b.      Membandingkan tubuh orang lain dengan dirinya sendiri.
c.       Menutupi bagian tubuh yang tidak disukai.
NOC:
a.       Self esteem
b.      Body image, yaitu persepsi positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh sendiri.
NIC:
a.       Body image enhancement, aktivitas: membantu mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya, mengidentifikasi cara- cara untuk mengurangi segala kesalahan penggambaran, fasilitasi kontak dengan individu sebagai suatu mekanisme untuk mengevaluasi persepsi citra tubuh, dorong pasien untuk melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah, memberikan informasi kosmetik yang dapat digunakan.
b.      Self esteem enhancement
c.       Peningkatan dukungan keluarga
d.      Kelompok sharing
e.       Rehabilitasi untuk adaptasi perubahan
f.       Kelompok sharing
Evaluasi:
a.       Pasien memperlihatkan koping diri
b.      Harga diri membaik
Prinsip perawatan dan peran perawat:
a.       Respon tidak mengadili pasien
b.      Bina hubungan saling percaya
c.       Mendiskusikan apa yang dipikirkan pasien
d.      Meyakinkan pikiran dan perilaku potitif pasien
e.       Komunikasi terapeutik
f.       Memberikan informasi yang sesungguhnya, apa adanya
g.      Perawat sebagai pendengar yang baik
h.      Menunjukkan rasa empati
i.        Memberi support
j.        Membebaskan pasien dari hal- hal yang membebani
k.      Memberikan pendampingan keagamaan
Terapi:
a.       Cognitif Behavioral Therapy (CBT), yaitu menyediakan pikiran logis terhadap penampilan pasien yang positif dengan cara memfasilitasi adaptasi terhadap perubahan.
Tahap- tahap CBT, menurut Catherine Faucher:
1)      Pasien mengkaji diri sendiri bagaiman acitra diri negatif mereka bisa berkembang.
2)      Mencatan ketidakpuasan yang dimiliki pasien, dan menuliskan diary tentang kejadian- kejadian tidak menyenangkan yang berhubungan dengan ketidakpuasannya.
3)      Training relaksasi
4)      Imajinasi
5)      ,6), dan 7) ketika pasien menyadari dan menyelaraskan kesalahan persepsinya mengenai body image.
8)  Meyakinkan pasien
9) Telaah untuk penerapan, mereview pengetahuan dan perilaku yang baru, dan belajar bagaimana mengimplementasikan pada kejadian- kejadian interpersonal yang berhubungan dengan body image negatif.
10) Praktek strategi pencegahan kekambuhan.
b.      Terapi psikologis, tujuannya untuk menurunkan rasa malu.
c.       Terapi perilaku, mendiskusikan perilaku.
d.      Terapi keluarga, membina hubungan saling pasien dan keluarga.
e.       Psikoterapi, terapi psikologis untuk mengangani gangguan body image
f.       Terapi farmakologi, misalnya anti depresan dan fluoxcetin.
g.      Manajemen cemas.

Bedah Jurnal 1- Acupuncture For Treating Acute Attack Of Migrain: A Randomized Controlled Trial


·         Judul Penelitian:
Acupuncture For Treating Acute Attack Of Migrain: A Randomized Controlled Trial
·         Penulis:
Li Ying, MD, PhD; Liang Fanrong, MD; Yang Xuguang, MD; Tian Xiaoping, MD; Yan Jie, MD; Sun Guojie, MD; Chang Xiaorong, MD, PhD; Tang Yong, MD, PhD; Ma Tingting, MD; Zhou Li, MD; Lan Lei, BS; Yao Wen, BS; Zou Ran, MD
·         Sumber:
Journal compilation © 2009 American Headache Society
·         Tujuan Penelitian
Untuk mendiskusikan hasil multicenter randomized controlled trial efikasi verum akupuntur untuk menangani serangan migrain akut
·         Metode Penelitian
a.       Cara Mengambil Sampel
218 pasien migrain direkrut dalam penelitian, 180 yang memenuhi kriteria inklusi, hanya 175 yang melengkapi proses callback dan dirandom dalam tiga kelompok. Kelompok pertama menerima verum akupuntur, sedangkan dua kelompok lain ditreament dengan sham akupuntur.
Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah pasien yang didiagnosa migrain dengan atau tanpa aura sesuai dengan kriteria klasifikasi International Headache Society, dengan satu atau lebih serangan perbulan selama tiga bulan terakhir dan serangan migrain akut setidaknya selama satu tahun. Pasien mengalami serangan migrain akut saat pendaftaran. Subjek penelitian berusia antara 18 sampai 65 tahun dengan serangan pertama migran saat usia kurang dari 50 tahun, dan tidak mengkonsumsi obat untuk mengatasi migrain dalam 24 setelah dimulainya serangan akut. Semua pasien juga memberikan informed concent tertulis dari dirinya atau kerabatnya.
Subjek penelitian diminta untuk tidak mengkonsumsi obat selama treatment akupuntur. Nama obat dan dosis harus didokumentasikan jika subjek mengkonsumsi obat karena nyeri yang tidak berkurang setelah di-treatment. Pasien diwajibkan menandatangani informed concent sebelum pendaftaran dan menyatakan telah menerima satu dari needling treatment dan angket yang berhubungan untuk 24 jam sebelum dan sesudah treatment.
Kriteria eksklusi yaitu pasien dengan beberapa kondisi berikut ini: penyebab pusing adalah gangguan organ, misalnya subrachnoid hemorrhage, cerebral hemorrhage, cerebral embolism, cerebral trombosis, vascular malformation, arteritis, hipertensi, atau arteriosklerosis. Kriteria eksklusi yang lain adalah psikosis, pregnancy, immunodeficiency, gangguan perdarahan, alergi, atau sedang partisipasi dalam percobaan lain.
Semua akupunturis yang berpartisipasi dalam penelitian ini diwajibkan untuk mengambil training spesial untuk memahami detail dari percobaan ini. Mereka dilatih penggunaan central randomization method dan pembulatan CRF dan elektro- CRF, lokasi akupoint dan manipulasi jarum yang benar. Semua akupunturis diwajibkan melengkapi semua training dan sudah lulus ujian khusus untuk memenuhi syarat pada penelitian ini.
b.      Apa yang Diukur dan Cara Pengukurannya
Setiap pasien menerima satu sesi treatment dan diobservasi selama 24 jam.
Outcome primer pengukuran adalah perubahan skor Visual Analogue Scale (VAS) dari dasar (sebelum dilakukan treatment) pada 0,5, 1,2, dan 4 jam setelah treatment. VAS adalah alat ukur standar untuk nyeri; rentang skala dari 0 sampai 10 cm, dengan 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan 10 menunjukkan nyeri yang sangat dahsyat. Intensitas nyeri yang dialami subjek adalah outcome pengukuran primer yang dapat dilihat. Skor VAS dicatat oleh subjek setelah treatment. Sebelum treatment, subjek diajarkan untuk mengkaji skor oleh peneliti. Skor VAS dikalkulasikan pada dasar perbandingan antara figur dasar dan figur setelah treatment, secara spesifik penurunan skor setelah treatment. Misalnya, skor dasar pada 1 contoh adalah 5,5, setelah treatment skor menjadi 4,5; oleh karena itu pengurangan skor VAS adalah -1.
Semua subjek harus melengkapi semua VAS skor (skor dasar sebelum treatment, dan additional score pada 0,5, 1,2 dan 4 jam setelah treatment. Selain itu, pasien juga diminta untuk menyimpan headache diary dan mencatat waktu ketika nyeri mereda; sebagai catatan keutuhan pengurangan nyeri selama 24 jam setelah treatment; obat- obatan yang dikonsumsi jika ada; dan kekambuhan atau peningkatan keparahan nyeri selama 24 jam setelah treatment. Selain itu, subjek juga menyiapkan evaluasi secara umum keefektifan akupuntur setelah treatment penuh.
Semua adverse event dan outcome-nya dicatat selama ataupun setelah treatment akupuntur. Adverse event meliputi perdarahan, hematoma, pingsan, nyeri berat, dan infeksi lokal.
Outcome sekunder meliputi time point penurunan nyeri, keutuhan penurunan nyeri, kekambuhan atau intensifikasi nyeri, dan evaluasi keefektifan secara umum.
c.       Cara Analisis
Parameter demografi dan karakteristik dasar lainnya dianalisis pada kelompok perlakuan untuk randomized population. Analisis pengukuran outcome primer didasarkan pada populasi ITT dan analisis outcome sekunder didasarkan pada populasi PP. Komparabilitas antara ketiga kelompok digunakan untuk menanalisis variasi continuous variables. Data ditampilkan dalam bentuk rata- rata ± standar deviasi (SD); jika normalitas pada variabel tersebut tidak dapat diperkirakan, data ditampilkan dalam bentuk median (interquartile range) dan tes Krusakal- Wallis digunakan sebagai penggantinya.
Ketika terdapat perbedaan signifikan antar kelompok, pairwise multiple comparison ditampilkan menggunaka prosedur Bonferroni tipe I error adjustment (α= 0.017). Selain itu, chi-square atau Fisher exact test digunakan untuk pengkategorian variabel; data ditampilkan dalam bentuk presentase (%). Wilcoxon sign rank test digunakan untuk membandingkan skor VAS sebelum dan sesudah treatment pada setiap kelompok.
Semua pengkajian statistik adalah 2-sided dan dievaluasi pada level 0.05 perbedaan signifikan. Analisis statistik menggunakan software statistik SPSS 15.0 (SPSS Inc., Chicago, IL, USA) dan SAS 9.0 (SAS Institude Inc., Cari, NC, USA).
·         Hasil Penelitian
Terjadi penurunan skor VAS secara signifikan dalam empat jam setelah treatment pada kelompok yang mendapat verum akupuntur maupun sham akupuntur. Skor VAS pada empat jam setelah treatment dengan rata- rata 1 cm pada kelompok verum akupuntur; 0,5 cm pada kelompok sham akupuntur 1; dan 0,1 cm pada kelompok sham akupuntur 2.
Banyak pasien pada kelompok verum akupuntur mengalami penurunan nyeri secara utuh (40,7%), dan tidak mengalami kekambuhan ataupun intensifikasi nyeri (79,6%). Selain itu, 30,9% pasien pada kelompok verum akupuntur dinilai keefektifan treatment secara umum pada 75% atau lebih tinggi.
Hanya 9 pasien yang melaporkan adanya adverse effect selama periode penelitian. Tiga pasien pingsan saat akupuntur, satu pasien menderita mual dan muntah, empat pasien mengalami perdarahan ringan dan hematoma, dan satu pasien melaporkan nyeri dan distensi. Semua pasien sembuh dengan cepat setelah treatment. Tidak ada pasien yang mengalami adverse event yang serius.