Thursday, October 4, 2012

Kanker Serviks (Neoplacia)


A.     Pengertian
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).
Kanker Serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim/ serviks yang abnormal dimana sel-sel ini mengalami perubahan ke arah displasia atau mengarah keganasan. Kanker ini hanya menyerang wanita yang pernah atau sekarang dalam status sexually active. Tidak pernah ditemukan pada wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual. Biasanya kanker ini menyerang wanita yang telah berumur, terutama paling banyak pada wanita yang berusia 35-55 tahun (Nada, 2007). Akan tetapi, tidak mustahil wanita yang muda pun dapat menderita penyakit ini, asalkan memiliki faktor risikonya.

B.     Etiologi
Penyebab pasti terjadinya perubahan sel-sel normal mulut rahim menjadi se-sel yang ganas tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perubahan tersebut, antara lain :
1)      Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun).
2)      Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex).
3)      Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18.
Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30-an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Pada sebagian besar kasus, infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap. Kedua faktor di atas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Semakin banyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. Begitu pula dengan terpaparnya sel-sel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipartner dapat merangsang terjadinya perubahan ke arah displasia.
4)      Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2.
5)      Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali.
6)      Wanita merokok, karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh.

C.     Patologis
Serviks yang normal mengalami metaplasia (penggantian epitel silindrik oleh suatu epitel gepeng atau sebaliknya sampai batas waktu tertentu). Dengan masuknya mutagen, proses tersebut dapat berkembang ke arah displasia (suatu pertumbuhan reaktif dengan gangguan pada prosesi kematangan dan diferensiasi sel-sel basal sampai pada epitel yang superficial yang dapat menyebabkan terganggunya struktur sel). Tergantung dari daya tahan tubuh, kelainan ini dapat berkembang menjadi kanker pra invasive, mikro invasive dan invasive. Pada perkembangan selanjutnya, kanker dapat tumbuh endofilik (ke dalam) menjadi ulkus atau eksofilik (ke luar). Jika tumbuh eksofilik, tumor mudah dikenal dari gejala mudah berdarah dan bentuknya seperti kol bunga. Yang tumbuh sebagai ulkus juga mudah dikenal dengan adanya ulkus nekrotik. Pinggirnya induratif dan baunya busuk (Harahap, 1982;322).

D.     Faktor Risiko
  • Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda
  • Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
  • Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
  • Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
  • Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
  • Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
  • Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

E.      Klasifikasi
Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 2000

Stadium I
Lesi tumor masih terbatas di serviks
IA1 Lesi telah menembus membrane basalis kurang dari 3 mm dengan diameter permukaan tumor < 7 mm
IA2 lesi telah menembus membrane basalis > 3 mm tetapi < 5 mm dengan diameter permukaan tumor < 7 mm
IB1 lesi terbatas di serviks dengan ukuran lesi primer < 4 cm
IB2 lesi terbatas di serviks dengan ukuran lesi primer > 4 cm

Stadium II
Lesi telah keluar dari serviks (meluas ke parametrium dan sepertiga proksimal vagina)
IIA Lesi telah meluas ke sepertiga proksimal vagina
IIB lesi telah meluas ke parametrium tetapi tidak mencapai dinding panggul

Stadium III
Lesi telah keluar dari serviks (menyebar ke parametrium dan atau sepertiga vagina distal)
IIIA Lesi telah menyebar ke sepertiga vagina dista
IIIB Lesi telah menyebar ke parametrium sampai dinding atas panggul

Stadium IV
Lesi menyebar keluar organ genitalia
IVA Lesi meluas keluar rongga panggul, dan atau menyebar ke mukosa vesika urinaria
IVB Lesi meluas ke mukosa rectum, dan atau meluas ke organ jauh


F.      Tanda dan Gejala
Gejala-gejala Kanker serviks
1.      Keputihan yang tidak gatal
Cairan yang keluar dari vagina lama-lama akan berbau busuk akibat nekrosis dan infeksi pada jaringan tumor. Biasanya gejala ini timbul pada tumor yang bersifat ulseratif.
2.      Pendarahan sehabis senggama
Terjadi akibat terbukanaya pembuluh darah, dan lebih lanjut dapat terjadi di luar senggama. Tidak jarang gejala tersebut akan baru muncul pada stadium II atau bahkan pada stadium III.
3.      Nyeri pada waktu senggama
4.      Disuria (nyeri pada waktu kencing)
5.      Anemia

G.     Manisfestasi Klinis
Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi, keputihan warna putih atau puralen yang berbau dan tidak gatal, perdarahan pascakoitus, perdarahan spontan, dan bau busuk yang khas. Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah, kehilangan berat badan, dan anemia. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar, ireguler, teraba lunak. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi.

H.  Prognosis
Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Setelah histerektomi radikal, terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun.

I.        Pemeriksaan Penunjang
a.       Tes Pap
Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%.
b.      Kolposkopi
Kolposkopi adalah pemeriksaan Ginekologi terhadap serviks menggunakan lensa khusus sehingga Serviks tampak lebih jelas.
Di Indonesia pemeriksaan kolposkopi biasanya merupakan pemeriksaan lanjutan setelah pemeriksaan Pap Smear, tetapi di negara maju pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan standar untuk deteksi dini terhadap kanker vulva/vagina termasuk kanker serviks.
c.       Kuretase endoserviks
Kuretase endoserviks dilakukan jika daerah abnormal tidak terlihat.
d.      Biopsy kerucut
Biopsy kerucut adalah mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih besar untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasive.
e.       MRI/CT scan abdomen atau pelvis
MRI/CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai penyebaran local dari tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional.
f.        Tes Schiller
Tes Schiller dilakukan dengan cara serviks diolesi dengan larutan yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.

J.       Terapi
  • Stadium IA1
Pada wanita yang masih mengunginkan anak, maka pembedahan konisasi merupakan terapi pembedahan terpilih. Pembedahan konservatif lainnya adalah dnegan cara amputasi serviks. Pembedahan dianggap cukup apabila pada specimen pembedahan tidak dijumpain emboli di pembuluh darah ataupun di pembuluh limfe, serta tepi sayatan bekas tumor.
  • Stadium IA1,IB dan IIA
Pengobatan terpilih adalah histeroktomi radikal dengan limfadenektomi pelvik bilateral. Salpingoovorektomi dapat dilakukan bila penderita sudah berusia lebih dari 40 tahun, bila penderita masih muda sebaiknya ovarium ditinggalkan dan dilakukan ovaereksis setinggi pool atas ginjal.
Pada lesi yang lebih kecil, dan penderita masih menginginkan anak, maka dapat dilakukan pembedahan trakhelektomi radikal dan parametrektomi bilateral.
Pada lesi besar (IB2) dapat diterapi dengan pembedahan histerektomi radikal dengan limfadenektomi pelvic maupun radioterapi.survival 5 tahun secara keseluruhan yang diterapi dengan pembedahan pada stadium IB dapat mencapai 92%, sedangkan pada stadium IIA dapat mencapai 87%.
  • Stadium IIB, II, dan IVA
Pengobatan terpilih yaitu radioterapi lengkap yaitu radiasi eksterna yang dilanjutkan inttrakaviter radioterapi.
  • Stadium IVB
Pengobatan yang diberikan bersifat paliatif.


Asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker serviks: askep Ca Cerviks

0 comments:

Post a Comment